Nabire papua tengah papedanews.com Wakil Ketua III DPR Papua Tengah, Bekies Sony Kogoya, mengajak seluruh pemimpin, tokoh agama, dan masyarakat untuk melakukan introspeksi di tengah kekeringan, kebakaran, gagal panen, serta krisis pangan yang melanda Kabupaten Nabire.
Menurut Bekies, kondisi yang terjadi saat ini tidak boleh hanya dipandang sebagai persoalan cuaca atau bencana alam semata. Kekeringan yang berkepanjangan, sumber air yang mulai mengering, tanaman yang mati, ternak yang terdampak, hingga ancaman terhadap ketersediaan pangan harus menjadi momentum bagi seluruh pemangku kepentingan untuk mengevaluasi kembali kebijakan dan arah pembangunan daerah.
Ia melihat situasi tersebut dari perspektif iman dan sejarah agama Kristen. Dalam kisah Alkitab, terdapat berbagai peristiwa ketika manusia mengalami kehancuran akibat kehidupan yang dinilai telah jauh dari kehendak Tuhan. Kisah Sodom dan Gomora dengan api dan belerang, serta air bah pada zaman Nuh, menjadi bagian dari refleksi tersebut.
ADVERTISEMENT
.
SCROLL TO RESUME CONTENT
Bagi Bekies, kisah-kisah itu bukan semata-mata untuk membandingkan keadaan masa lalu dengan kondisi saat ini, melainkan menjadi peringatan agar manusia selalu melakukan introspeksi terhadap kehidupannya.
“Ketika daerah mengalami kondisi seperti ini, kita sebagai pemimpin harus berani bertanya kepada diri sendiri: apakah kebijakan yang selama ini kita buat sudah benar? Apakah kebijakan tersebut sudah berpihak kepada rakyat? Dan apakah kehidupan pemerintahan kita sudah berjalan sesuai dengan nilai-nilai yang Tuhan kehendaki?” ujarnya.
Kekeringan dan Kebakaran Menjadi Peringatan
Kondisi Kabupaten Nabire yang mengalami kekeringan panjang telah memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Lahan pertanian mengering, tanaman terancam gagal panen, sumber air semakin terbatas, dan kehidupan masyarakat semakin sulit.
Di saat yang sama, kebakaran terjadi di sejumlah wilayah dan asap menyelimuti kawasan dalam waktu yang cukup lama. Kondisi tersebut membuat masyarakat bertanya-tanya mengenai penyebab dan bagaimana persoalan ini dapat segera berakhir.
Bekies meminta agar fenomena tersebut tidak hanya ditanggapi dengan tindakan darurat, tetapi juga dengan evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola lingkungan dan pemerintahan.
Menurutnya, pemimpin daerah memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan seluruh kebijakan pembangunan tidak merusak lingkungan dan tidak mengorbankan kepentingan masyarakat.
Ia juga menyinggung sejumlah persoalan sosial yang selama ini menjadi perhatian masyarakat, seperti peredaran minuman keras, tempat hiburan malam, prostitusi, serta aktivitas ilegal yang berpotensi merusak lingkungan dan kehidupan sosial.
Termasuk dugaan aktivitas pertambangan ilegal yang menurutnya harus mendapat perhatian serius pemerintah agar tidak semakin merusak wilayah dan sumber kehidupan masyarakat.
Pemerintah dan Gereja Harus Bersinergi
Selain persoalan lingkungan dan ekonomi, Bekies menilai pembangunan spiritual masyarakat juga perlu mendapat perhatian lebih besar.
Ia menyebut, di wilayah hukum Kabupaten Nabire, pembangunan kerohanian dan kegiatan seperti Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) belum berjalan secara maksimal sebagai bagian dari kemitraan antara pemerintah dan gereja.
Padahal, menurutnya, pemerintah dan gereja memiliki peran penting dalam membangun karakter serta kehidupan masyarakat.
“Pemerintah harus membangun kemitraan yang baik dengan seluruh denominasi gereja. Program-program keagamaan harus dapat bersinergi dengan program pemerintah sehingga pembangunan rohani masyarakat menjadi bagian penting dari pembangunan daerah,” katanya.
Menurut Bekies, pemerintah tidak boleh hanya fokus pada pembangunan fisik, ekonomi, dan infrastruktur. Pembangunan manusia juga harus menyentuh aspek moral dan spiritual.
Ia juga menekankan bahwa sinergi tersebut harus mencakup seluruh umat beragama. Pemerintah perlu menciptakan ruang kerja sama yang harmonis antara pemerintah, gereja, masjid, tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, serta seluruh elemen masyarakat.
Jangan Hanya Sibuk Berdebat, Bangun Negeri Bersama
Bekies juga menyoroti banyaknya persoalan sosial dan politik yang selama ini memicu demonstrasi dan perdebatan di masyarakat.
Menurutnya, menyampaikan aspirasi merupakan bagian dari kehidupan demokrasi. Namun, energi masyarakat dan pemerintah juga harus diarahkan untuk membangun kehidupan yang lebih baik.
“Jangan sampai kita terus-menerus ribut mengenai kepentingan masing-masing, sementara masyarakat sedang menghadapi persoalan pangan, air, lingkungan, dan ekonomi,” ujarnya.
Ia mengajak seluruh pihak untuk mengurangi kepentingan pribadi dan kelompok serta mengutamakan kepentingan rakyat dan masa depan daerah.
Menurutnya, Nabire membutuhkan pemimpin yang mampu melihat persoalan secara menyeluruh, bukan hanya dari sisi politik dan pemerintahan, tetapi juga dari sisi kemanusiaan, lingkungan, sosial, ekonomi, dan spiritual.
Pemimpin Harus Berani Introspeksi
Bekies menegaskan bahwa seorang pemimpin harus memiliki keberanian untuk mengevaluasi dirinya sendiri.
Pemimpin harus bertanya apakah kebijakan yang selama ini dibuat benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat. Jika terdapat kesalahan, maka harus berani memperbaikinya.
Ia juga mengajak para pemimpin untuk kembali memperkuat kehidupan doa dan membangun pemerintahan yang berintegritas.
“Pemimpin harus bersih, beriman, takut akan Tuhan, dan selalu meminta pertolongan Tuhan dalam menjalankan tanggung jawabnya. Kita harus berdoa, tetapi doa juga harus disertai dengan tindakan nyata dan kebijakan yang benar,” katanya.



















