Intan jaya , Papua Tengah Papedanews.com Puluhan pelajar asal Kampung Maniouwo, Distrik Biandoga, Kabupaten Intan Jaya, yang saat ini menempuh pendidikan di Jakarta mengeluhkan berbagai persoalan administrasi kependudukan yang dinilai menghambat proses pendidikan mereka.

Keluhan tersebut disampaikan dalam pertemuan bersama Kepala Kampung Maniouwo, Timotius Sukarno Iyapa, Anggota DPRK Intan Jaya Aljono Bagau, serta para siswa yang sedang menjalani masa liburan di Nabire.
ADVERTISEMENT
.
SCROLL TO RESUME CONTENT
Timotius Sukarno Iyapa menjelaskan bahwa sejumlah pelajar asal Kampung Maniouwo yang bersekolah di Jakarta masih menghadapi masalah terkait Kartu Keluarga (KK), Kartu Tanda Penduduk (KTP), dan data kependudukan lainnya yang belum terhubung dengan baik dalam sistem administrasi Kabupaten Intan Jaya.
Menurutnya, persoalan tersebut telah berlangsung cukup lama dan menyebabkan para pelajar kesulitan mengurus berbagai kebutuhan administrasi pendidikan maupun identitas diri.
“Kami meminta Pemerintah Kabupaten Intan Jaya, khususnya Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil), dapat mencari solusi untuk menyelesaikan persoalan administrasi yang dialami anak-anak kami. Mereka adalah generasi penerus daerah yang harus mendapat perhatian,” ujar Timotius.
Ia juga mengusulkan agar Pemerintah Kabupaten Intan Jaya membuka layanan Dukcapil sementara di Nabire setiap masa liburan sekolah, khususnya pada bulan Juni hingga Juli.
Menurutnya, biaya transportasi dari Nabire menuju Intan Jaya yang cukup tinggi menjadi kendala bagi mahasiswa maupun pelajar untuk mengurus dokumen kependudukan secara langsung di daerah asal.
“Kami berharap setiap tahun pada masa libur panjang, Dukcapil dapat membuka pelayanan sementara di Nabire selama satu hingga dua minggu agar mahasiswa dan pelajar bisa mengurus identitas mereka tanpa harus kembali ke Intan Jaya,” katanya.
Sementara itu, Anggota DPRK Intan Jaya dari Daerah Pemilihan III Biandoga, Aljono Bagau, menegaskan bahwa pihaknya telah menerima berbagai keluhan dari sekitar 40 pelajar asal Maniouwo yang saat ini menempuh pendidikan di Jakarta.
Ia meminta Pemerintah Kabupaten Intan Jaya, khususnya Dukcapil, segera mengambil langkah cepat untuk menyelesaikan persoalan administrasi yang dihadapi para pelajar tersebut.
“Anak-anak ini datang dari Jakarta ke Nabire hanya untuk mengurus administrasi kependudukan mereka. Mereka adalah aset Kabupaten Intan Jaya yang harus diperhatikan agar tidak mengalami kesulitan dalam melanjutkan pendidikan,” ujar Aljono.
Ia juga mendukung usulan pembukaan layanan Dukcapil di Nabire guna mempermudah masyarakat dan pelajar dalam mengurus berbagai dokumen administrasi.
Dalam kesempatan yang sama, perwakilan siswa asal Kampung Maniouwo, Matius Ayapa, mengungkapkan bahwa sejumlah pelajar menemukan berbagai kesalahan data saat proses perekaman identitas di Jakarta.
Beberapa permasalahan yang ditemukan antara lain ketidaksesuaian kode wilayah, kesalahan data identitas, serta dokumen administrasi yang dinilai belum lengkap dan belum sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
“Kami memohon kepada Pemerintah Kabupaten Intan Jaya agar dapat bekerja sama memperbaiki sistem administrasi yang ada sehingga data kami dapat kembali terdaftar dengan benar dan sesuai dengan daerah asal kami,” ujarnya.
Para pelajar berharap pemerintah daerah dapat segera mengambil langkah konkret untuk menyelesaikan persoalan tersebut sehingga proses pendidikan mereka tidak terganggu oleh kendala administrasi kependudukan.





















