Tidak dapat pembagian proyek pekerjaan kontraktor pengusaha Orang Asli Papua (OAP). meluapkan kekecewaan terhadap kebijakan pemprov, kenapa hanya tim sukses

- Penulis

Rabu, 22 Oktober 2025 - 14:48

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Nabire, Papua Tengah papedanews.com Suasana panas terjadi di depan Kantor Dinas PUPR Provinsi Papua Tengah pada Rabu (22/10/2025) siang. Dalam wawancara langsung dengan awak media, Monalisa Yoweni, kontraktor perempuan asli Papua, meluapkan kekecewaannya terhadap kebijakan pemerintah yang dinilai tidak berpihak pada pengusaha Orang Asli Papua (OAP).

Monalisa menyebut aksi demo yang dilakukan pihaknya pekan lalu bukan tanpa alasan. Itu adalah bentuk protes keras atas ketidakadilan dalam pembagian proyek penunjukan langsung (PL) tahun 2025, di mana para kontraktor OAP sama sekali tidak diberdayakan.

 

ADVERTISEMENT

ads.

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Kami ini kontraktor orang asli Papua, tapi tidak pernah diberdayakan. Kata Bapak Sekda, pemerintah provinsi tidak bisa mengakomodir kami karena sudah tidak ada instruksi dari gubernur Papua Tengah. Tapi nyatanya, proyek-proyek itu justru jatuh ke tangan tim sukses dan relawan,”

 

Ia menuturkan, hasil komunikasi dengan Kepala Dinas PUPR hanya menambah kekecewaan. Kepala dinas menyebut dirinya tidak memiliki kewenangan mengambil keputusan karena semua harus menunggu instruksi gubernur.

 

“Kalau begitu, di mana hati nurani Bapak Gubernur terhadap kami orang Papua? Kami ini juga rakyatnya, kami ini pembayar pajak negara!” ujarnya

 

Monalisa membeberkan, para kontraktor OAP sebenarnya memiliki perusahaan resmi yang telah diverifikasi oleh dinas terkait. Namun meski begitu, mereka tetap tak diberi kesempatan mengelola proyek-proyek yang bersumber dari dana Otonomi Khusus (Otsus).

Baca Juga:  Perayaan HUT Ke 43- Gereja Kemah INJIL (KINGMI) JEMAAT EFATA Di TANAH PAPUA

“Dana Otsus itu bukan milik relawan. Itu uang ganti darah, uang ganti merdeka. Kami orang Papua punya hak di situ. Tapi kenapa kami malah disingkirkan?”

 

Lebih jauh, Monalisa menilai praktik semacam ini telah menyalahi semangat Otsus yang sejatinya diperuntukkan bagi pemberdayaan orang asli Papua.

 

“Kami sudah dua kali kirim surat audiensi ke gubernur, tapi tidak pernah direspons. Kalau kami pengusaha asli Papua saja sudah morat-marit, bagaimana dengan mama-mama penjual pinang di pasar? Pasti lebih susah lagi,” tambahnya

 

Ia juga menyerukan agar Gubernur Papua Tengah segera menerbitkan Peraturan Gubernur (Pergub) yang memberikan porsi khusus kepada pengusaha OAP dalam proyek-proyek pemerintah, agar ke depan tidak ada lagi diskriminasi atau ketimpangan.

 

“Kami tidak minta belas kasihan, kami minta keadilan. Keluarkan Pergub supaya kami tidak terus datang tiap tahun seperti pengemis. Kami mau ada kepastian hukum untuk hidup kami di tanah sendiri,” tegasnya

Monalisa menutup pernyataannya dengan harapan agar pemerintah tidak hanya berbicara soal kesejahteraan orang Papua di atas kertas, tapi juga membuktikannya dalam tindakan nyata.

“Tolong, jangan bunuh semangat kami dengan janji. Kami ini bukan pengemis, kami pembayar pajak negara,” pungkasnya dengan nada tajam sebelum meninggalkan lokasi.

Berita Terkait

Akun TikTok Soroti Dugaan Korupsi RSUD Nabire, Minta Kejari Segera Tetapkan Tersangka
Rusun ASN Papua Tengah Resmi Diserahterimakan, Tonggak Penguatan Pemerintahan dan Pelayanan Publik di DOB
P2N Papua Tengah Edukasi 400 Perempuan di Nabire, Perkuat Literasi Digital dan Ajak Bijak Bermedia Sosial
Rusun ASN Papua Tengah Resmi Diserahterimakan, Dukung Kinerja dan Pelayanan Publik
Masyarakat Nifasi Tegaskan Bukan “Tameng” PT Kristalin: “Kami Sedang Mempertahankan Hak dan Sumber Penghidupan
Respons Cepat Pemprov Papua Tengah, Dinkes Berhasil Terbangkan Bantuan Obat dan Logistik Medis ke Sugapa Intan Jaya
Ketua DPW PPP Papua: Jangan Terprovokasi Video Lama Gubernur Papua Tengah
Isu kedatangan satgas PKH ke wilayah adat makimi mendapatkan penolakan, ini penjelasan ketua dewan adat
Berita ini 37 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 13 Juli 2026 - 19:40

Akun TikTok Soroti Dugaan Korupsi RSUD Nabire, Minta Kejari Segera Tetapkan Tersangka

Jumat, 10 Juli 2026 - 10:53

Rusun ASN Papua Tengah Resmi Diserahterimakan, Tonggak Penguatan Pemerintahan dan Pelayanan Publik di DOB

Kamis, 9 Juli 2026 - 06:28

P2N Papua Tengah Edukasi 400 Perempuan di Nabire, Perkuat Literasi Digital dan Ajak Bijak Bermedia Sosial

Selasa, 7 Juli 2026 - 18:06

Rusun ASN Papua Tengah Resmi Diserahterimakan, Dukung Kinerja dan Pelayanan Publik

Selasa, 7 Juli 2026 - 14:27

Masyarakat Nifasi Tegaskan Bukan “Tameng” PT Kristalin: “Kami Sedang Mempertahankan Hak dan Sumber Penghidupan

Senin, 6 Juli 2026 - 09:15

Kementan Salurkan 3 Juta Bibit Kakao untuk Nabire, Siapkan Perkebunan 3.100 Hektare

Senin, 6 Juli 2026 - 07:07

Ketua DPW PPP Papua: Jangan Terprovokasi Video Lama Gubernur Papua Tengah

Minggu, 5 Juli 2026 - 09:23

Isu kedatangan satgas PKH ke wilayah adat makimi mendapatkan penolakan, ini penjelasan ketua dewan adat

Berita Terbaru