Pleno XIX Dewan Adat se-Tanah Papua: Tegas Tolak PSN dan Pendekatan Militerisme di Tanah Papua

- Penulis

Sabtu, 23 Mei 2026 - 15:57

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_16908288

Oplus_16908288

Teluk Wondama, Papua Barat Papedanews.com Dewan Adat se-Tanah Papua menegaskan penolakan terhadap Proyek Strategis Nasional (PSN) dan pendekatan militerisme di Tanah Papua dalam Sidang Pleno XIX yang berlangsung di Kabupaten Teluk Wondama, 19–21 Mei 2026.

 

Pleno tersebut dihadiri perwakilan masyarakat adat dari tujuh wilayah adat di Tanah Papua, yakni Tabi, Saireri, Doberay, Bomberay, Mee Pago, Laa Pago, dan Ha-Anim.

ADVERTISEMENT

ads.

SCROLL TO RESUME CONTENT

 

Kegiatan itu turut dihadiri Wakil Gubernur Papua Barat Mohammad Lakotani, Kapolda Papua Barat Irjen Pol. Alfred Papare, S.I.K., Kapolres Teluk Wondama, unsur kodim 18011/Teluk Wondama, Wakil Sekretaris Jenderal Dewan Adat Papua Yohanes Runsumbre, S.Sos., Bupati Teluk Wondama Elysa Auri, serta para ketua Dewan Adat dari seluruh Tanah Papua, serta para stakeholder lainnya.

 

Sidang pleno dipimpin Ketua Dewan Adat wilayah Tabi Yakonias Wabrar, Ketua Dewan Adat wilayah Doberay Dr. Markus Waran, ST., M.Si., serta Wasekjen Dewan Adat Papua Yohanes Runsumbre.

 

Dalam pleno tersebut, Dewan Adat se-Tanah Papua menghasilkan sejumlah rekomendasi strategis kepada Presiden RI dan pemerintah pusat terkait perlindungan masyarakat adat, tanah, hutan, dan laut di Papua.

 

Ketua Dewan Adat wilayah Doberay, Markus Waran, mengatakan salah satu poin utama hasil pleno adalah penolakan tegas terhadap proyek strategis nasional di Tanah Papua, termasuk di Merauke dan sejumlah daerah lainnya.

 

Menurutnya, proyek-proyek tersebut berpotensi merampas ruang hidup Orang Asli Papua jika dijalankan tanpa persetujuan masyarakat adat sebagai pemilik hak ulayat.

 

“Papua bukan tanah kosong. Pemerintah wajib mengedepankan musyawarah dan persetujuan masyarakat adat sebelum menjalankan proyek strategis nasional,” tegas Waran.

 

Selain menolak PSN, Dewan Adat Papua juga menolak pembukaan dan penempatan pos-pos militer di wilayah konflik seperti Jayawijaya, Puncak Jaya, Yahukimo, Dogiyai, Deiyai, Maybrat, hingga Moskona di Teluk Bintuni.

 

DAP menilai penambahan kekuatan militer berpotensi memperbesar eskalasi konflik dan memperdalam trauma masyarakat Papua terhadap kekerasan masa lalu.

 

Dalam rekomendasi lainnya, Dewan Adat Papua meminta Presiden RI menghentikan pengiriman pasukan organik maupun non-organik dalam jumlah besar ke Papua.

Baca Juga:  PEMBERIAN BANTUAN ALKON DARI PEMERINTAH PUSAT KEPADA TOWENGGEN MURIB, KEPALA SUKU DANI PUNCAK DI KAMPUNG LANI DISTRIK TELUK KIMI

 

DAP juga meminta Presiden Prabowo Subianto mengedepankan pendekatan persuasif dan dialogis dibanding pendekatan keamanan dan militer.

 

“Pendekatan dialog jauh lebih penting untuk menyelesaikan konflik sosial dan politik di Papua daripada penggunaan kekuatan militer,” ujar Waran.

 

Pleno XIX juga menolak kebijakan efisiensi anggaran di Tanah Papua, baik terhadap dana Otonomi Khusus maupun sumber anggaran lainnya.

 

DAP menilai anggaran daerah harus tetap difokuskan untuk pembangunan kesejahteraan Orang Asli Papua, terutama di sektor ekonomi, kesehatan, dan pendidikan.

 

Selain itu, Dewan Adat Papua mendorong pemerintah pusat membuka dialog konstruktif dengan seluruh masyarakat adat Papua guna mencari solusi penyelesaian konflik di Papua secara menyeluruh.DAP bahkan menegaskan akan membawa sekitar 1.000 masyarakat adat untuk bertemu langsung Presiden RI apabila ruang dialog tidak dibuka pemerintah.

 

Dalam pleno tersebut, Dewan Adat Papua juga menetapkan Konferensi Besar Masyarakat Adat Papua (KBMAP) V akan digelar di Kabupaten Manokwari Selatan pada Oktober 2026.

 

Di sisi lain, Dewan Adat Papua menegaskan posisinya sebagai lembaga adat yang berpihak pada perlindungan masyarakat adat, tanah, hutan, dan laut Papua, serta bukan instrumen politik.

 

DAP juga merekomendasikan perubahan istilah Orang Asli Papua (OAP) menjadi Orang Papua Asli (OPA) agar lebih tepat merujuk kepada suku-suku asli Papua dari rumpun Melanesia.

 

“Dewan Adat sebagai rumah besar masyarakat adat Papua hadir untuk melindungi hak-hak masyarakat adat, menjaga tanah, hutan, laut, dan manusia Papua,”ujarnya.

 

Terakhir DAP mendorong negara hadir untuk melindungi segenap rakyat Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, dan perlindungan hak asasi Manusia. DAP meminta Pemerintah tidak menutup ruang demokrasi dan karya jurnalistik termasuk film “Pesta Babi” yang merupakan karya seni anak bangsa dalam mengungkap eksistensi masyarakat adat Papua, perjuangan masyarakat adat Papua atas Tanah, hutan dan ruang hidupnya.

Berita Terkait

Masyarakat Makimi Datangi DPR RI dan DPD RI, Minta Penertiban Satgas PKH Dievaluasi dan Tak Abaikan Ruang Hidup Warga
Meki Nawipa Taruh Masa Depan Papua Tengah di Pendidikan, Rp56 Miliar untuk Pengembangan Sekolah Papua Harapan
Dinas Kesehatan Provinsi Papua Tengah Lakukan Monev Implementasi ILP pada 8 Puskesmas Lokus Provinsi Papua Tengah
Gubernur Meki Nawipa ke KNPI: Jangan Jadi Penonton, Pemuda Harus Turun Tangan Bangun Papua Tengah
Wakil Ketua III DPR Papua Tengah Ultimatum Petugas Bandara: Jangan sampe ada Perjualbelikan Tiket subsidi
Tiket Turun Jadi Rp400 Ribu, Sony Bekies Kogoya Apresiasi Subsidi dari pemprov papua tengah
Wakil Ketua III DPR Papua Tengah Ajak Pemimpin Introspeksi di Tengah Krisis Nabire
LMA Nabire Deklarasikan Persatuan Masyarakat Adat, Serukan Papua Tengah Aman dan Damai
Berita ini 81 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 28 Agustus 2026 - 11:27

Masyarakat Makimi Datangi DPR RI dan DPD RI, Minta Penertiban Satgas PKH Dievaluasi dan Tak Abaikan Ruang Hidup Warga

Jumat, 28 Agustus 2026 - 02:12

Meki Nawipa Taruh Masa Depan Papua Tengah di Pendidikan, Rp56 Miliar untuk Pengembangan Sekolah Papua Harapan

Kamis, 27 Agustus 2026 - 12:26

Dinas Kesehatan Provinsi Papua Tengah Lakukan Monev Implementasi ILP pada 8 Puskesmas Lokus Provinsi Papua Tengah

Rabu, 26 Agustus 2026 - 05:10

Gubernur Meki Nawipa ke KNPI: Jangan Jadi Penonton, Pemuda Harus Turun Tangan Bangun Papua Tengah

Senin, 24 Agustus 2026 - 09:01

Wakil Ketua III DPR Papua Tengah Ultimatum Petugas Bandara: Jangan sampe ada Perjualbelikan Tiket subsidi

Jumat, 21 Agustus 2026 - 14:54

Wakil Ketua III DPR Papua Tengah Ajak Pemimpin Introspeksi di Tengah Krisis Nabire

Rabu, 19 Agustus 2026 - 15:06

LMA Nabire Deklarasikan Persatuan Masyarakat Adat, Serukan Papua Tengah Aman dan Damai

Rabu, 19 Agustus 2026 - 14:27

PLTS 30 kW Akan Terangi Dua Distrik di Kabupaten Puncak

Berita Terbaru