Penolakan Masyarakat Mee terhadap Rencana Pemerintah Kabupaten DOB Baru Kabupaten Moni di Wilayah Paniai

- Penulis

Senin, 18 Mei 2026 - 18:59

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Nabire Papua Tengah Papedanews.com warga dan Masyarakat Mee dari kelompok marga dan wilayah Yeimo, Dogopia, Magai, dan Yatipai menyampaikan penolakan terhadap rencana pembentukan Daerah Otonomi Baru (DOB) Kabupaten Moni yang sedang diwacanakan di wilayah Paniai, Papua Tengah.

 

Pernyataan penolakan tersebut disampaikan menyusul aksi Mimbar Bebas Solidaritas Mahasiswa Indonesia-Kota Pelajar (SMI-KP) Se-Indonesia di Kota Studi Nabire pada Senin, 18 Mei 2026 di Pasar Karang, Nabire.

ADVERTISEMENT

ads.

SCROLL TO RESUME CONTENT

 

Dalam aksi tersebut, mahasiswa menyoroti sejumlah dampak yang dinilai akan muncul akibat pemekaran DOB, antara lain ekspansi investasi, penggusuran hak ulayat masyarakat adat, arus transmigrasi, militerisasi, hingga kerusakan lingkungan hidup yang mengancam keberlangsungan ekologi, ekosistem, iklim, serta kehidupan masyarakat adat di Paniai.

 

Koordinator aksi, Arnold Pigai, menyampaikan bahwa aksi mimbar bebas dilakukan sebagai bentuk kepedulian mahasiswa terhadap masa depan tanah adat dan keberlangsungan hidup rakyat Papua.

 

“Tanah ini adalah titipan leluhur. Kehadiran masyarakat dalam aksi ini merupakan bentuk solidaritas dan rasa cinta terhadap tanah dan masa depan Paniai,” ujarnya dalam orasi aksi.

 

Sebelum aksi berlangsung, situasi dilaporkan mengalami ketegangan. Pada Minggu malam, 17 Mei 2026, sejumlah mahasiswa penghuni asrama mengaku mengalami intimidasi dan teror dari pihak tidak dikenal. Selain itu, Ketua GMNI dan KNPI sempat melakukan audiensi dengan penghuni asrama dan menawarkan agar aksi diganti dengan jumpa pers, dengan alasan adanya kelompok masyarakat yang berencana membubarkan aksi penolakan DOB.

Baca Juga:  Ketua komisi A DPRK Nabire Karel Tabuni Perkuat Seruan Sony Kogoya : perda miras harus segera terbitkan

 

Sekitar pukul 08.30 WIT, aparat gabungan TNI–Polri mulai tiba di lokasi aksi untuk melakukan pengamanan. Aparat dilaporkan membawa perlengkapan pengamanan seperti kendaraan Dalmas, gas air mata, tameng, serta senjata pengamanan lainnya.

 

Situasi memanas sekitar pukul 09.43 WIT ketika dua unit kendaraan yang disebut membawa massa pendukung DOB Moni tiba di lokasi. Massa tersebut dilaporkan membubarkan aksi secara paksa dengan merobek spanduk, memutus tali komando, dan membubarkan peserta aksi tanpa negosiasi dengan koordinator lapangan maupun penanggung jawab aksi.

 

Akibat situasi tersebut, massa aksi kemudian membubarkan diri dan kembali ke Sekretariat Honai Yamewa Paniai di wilayah Xbobo.

 

Sementara itu, masyarakat Mee dari wilayah Yeimo, Magai, Yatipai, dan Dogopia menyatakan bahwa wilayah yang diwacanakan menjadi Kabupaten Moni merupakan tanah ulayat masyarakat Mee, sehingga mereka menolak pembentukan DOB tersebut.

 

“Masyarakat Mee tetap menolak Kabupaten Moni karena wilayah itu bukan hanya dihuni suku Moni. Tanah ulayat daerah tersebut adalah wilayah Mee. Kami menilai Kabupaten Moni belum layak dibentuk karena Kabupaten Paniai sendiri sampai hari ini belum sepenuhnya berkembang,” ujar perwakilan masyarakat Mee.

 

Mereka juga menilai kesiapan sumber daya manusia (SDM) masih menjadi persoalan penting yang harus dipertimbangkan sebelum mendorong pembentukan DOB baru di wilayah tersebut.

Berita Terkait

Akun TikTok Soroti Dugaan Korupsi RSUD Nabire, Minta Kejari Segera Tetapkan Tersangka
Rusun ASN Papua Tengah Resmi Diserahterimakan, Tonggak Penguatan Pemerintahan dan Pelayanan Publik di DOB
P2N Papua Tengah Edukasi 400 Perempuan di Nabire, Perkuat Literasi Digital dan Ajak Bijak Bermedia Sosial
Rusun ASN Papua Tengah Resmi Diserahterimakan, Dukung Kinerja dan Pelayanan Publik
Masyarakat Nifasi Tegaskan Bukan “Tameng” PT Kristalin: “Kami Sedang Mempertahankan Hak dan Sumber Penghidupan
Respons Cepat Pemprov Papua Tengah, Dinkes Berhasil Terbangkan Bantuan Obat dan Logistik Medis ke Sugapa Intan Jaya
Ketua DPW PPP Papua: Jangan Terprovokasi Video Lama Gubernur Papua Tengah
Isu kedatangan satgas PKH ke wilayah adat makimi mendapatkan penolakan, ini penjelasan ketua dewan adat
Berita ini 107 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 13 Juli 2026 - 19:40

Akun TikTok Soroti Dugaan Korupsi RSUD Nabire, Minta Kejari Segera Tetapkan Tersangka

Jumat, 10 Juli 2026 - 10:53

Rusun ASN Papua Tengah Resmi Diserahterimakan, Tonggak Penguatan Pemerintahan dan Pelayanan Publik di DOB

Kamis, 9 Juli 2026 - 06:28

P2N Papua Tengah Edukasi 400 Perempuan di Nabire, Perkuat Literasi Digital dan Ajak Bijak Bermedia Sosial

Selasa, 7 Juli 2026 - 18:06

Rusun ASN Papua Tengah Resmi Diserahterimakan, Dukung Kinerja dan Pelayanan Publik

Selasa, 7 Juli 2026 - 14:27

Masyarakat Nifasi Tegaskan Bukan “Tameng” PT Kristalin: “Kami Sedang Mempertahankan Hak dan Sumber Penghidupan

Senin, 6 Juli 2026 - 09:15

Kementan Salurkan 3 Juta Bibit Kakao untuk Nabire, Siapkan Perkebunan 3.100 Hektare

Senin, 6 Juli 2026 - 07:07

Ketua DPW PPP Papua: Jangan Terprovokasi Video Lama Gubernur Papua Tengah

Minggu, 5 Juli 2026 - 09:23

Isu kedatangan satgas PKH ke wilayah adat makimi mendapatkan penolakan, ini penjelasan ketua dewan adat

Berita Terbaru