Ketua LMA Tujuh Suku Meyah Tegas Tolak Aktivitas APRI di Waprasmasi Manokwari

- Penulis

Rabu, 11 Februari 2026 - 09:58

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_131072

Oplus_131072

MANOKWARI Papedanews.com Ketua Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Tujuh Suku Meyah, Musa Mandacan, menyatakan penolakan tegas terhadap aktivitas Asosiasi Penambang Rakyat Indonesia (APRI) di wilayah adat Meyah, khususnya di Kampung Waprasmasi, Distrik Masni, Kabupaten Manokwari, Papua Barat. Penolakan tersebut didasari kekhawatiran adanya kegiatan yang dinilai berpotensi memicu keresahan dan memecah persatuan masyarakat adat.

 

Musa menegaskan bahwa Papua merupakan wilayah adat yang memiliki struktur dan kewenangan adat yang harus dihormati. Oleh karena itu, setiap organisasi yang berkegiatan di wilayah adat, terutama yang berkaitan dengan pertambangan rakyat, wajib berkoordinasi dan memperoleh legitimasi dari lembaga adat setempat.

ADVERTISEMENT

ads.

SCROLL TO RESUME CONTENT

 

“Kami menolak dengan tegas kehadiran APRI di wilayah adat Meyah. Jangan melakukan kegiatan yang berpotensi memprovokasi masyarakat adat. Perjuangan masyarakat adat untuk mendapatkan Izin Pertambangan Rakyat (IPR) sedang berjalan dan tidak boleh ditunggangi oleh kepentingan tertentu,” kata Musa, yang juga sebagai Ketua POKJA Adat MRP Papua Barat ini, Sabtu (8/2/2026).

 

Ia menilai, langkah-langkah yang dilakukan di luar mekanisme adat justru berisiko menimbulkan konflik horizontal di tengah masyarakat. Menurutnya, isu pertambangan rakyat merupakan persoalan sensitif karena menyangkut hak ulayat dan keberlangsungan hidup masyarakat adat.

 

“Wilayah Kali Kasih, Wariori, dan Wasirawi adalah tanah adat masyarakat Meyah. Ada lembaga adat yang bertanggung jawab langsung kepada masyarakat. Setiap pembicaraan dan kegiatan terkait tanah adat harus melalui lembaga adat, bukan berjalan sendiri-sendiri,” ujarnya.

Baca Juga:  Kado istimewa HUT bhayangkara ke 79 Polres Nabire ungkap kasus curanmor dan beberapa kasus lain.

 

Musa juga mengingatkan agar tidak ada oknum penambang maupun pemodal yang memanfaatkan situasi untuk mempercepat kepentingan bisnis dengan mengorbankan tatanan adat. Ia menegaskan bahwa proses perizinan pertambangan rakyat saat ini telah berada pada tahap kebijakan pemerintah daerah.

“IPR sudah berada di tangan Gubernur Papua Barat. Kami tinggal menunggu keputusan. Jangan ada gerakan tambahan yang justru mengaburkan proses dan memicu persoalan adat di lapangan,” katanya.

 

Sebelumnya, Dewan Pengurus Wilayah Asosiasi Penambang Rakyat Indonesia (DPW APRI) Papua Barat menggelar pertemuan dengan masyarakat di Kampung Waprasmasi, Distrik Masni, pada 7 Februari 2026. Pertemuan tersebut merupakan tindak lanjut agenda DPW APRI Papua Barat terkait pembahasan pertambangan rakyat dan hak ulayat di wilayah Wasirawi dan sekitarnya.

 

Berdasarkan surat undangan resmi DPW APRI Papua Barat tertanggal 22 Januari 2026, kegiatan itu dijadwalkan berlangsung di Masni, dan disebut membahas tindak lanjut aspirasi pemilik hak ulayat serta koordinasi teknis dengan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Manokwari.

 

Namun, LMA Tujuh Suku Meyah menegaskan bahwa pertemuan tersebut tidak pernah dikoordinasikan dengan lembaga adat sebagai pemegang mandat masyarakat adat Meyah. Kondisi ini dinilai berpotensi menimbulkan persoalan adat dan sosial apabila terus berlanjut tanpa mekanisme yang jelas dan sah.

Berita Terkait

Dua Tahun Kasus RSUD Nabire Tak Kunjung Terungkap, Publik Pertanyakan Kinerja Kejaksaan Nabire
Antrean Check-in Batik Air di Bandara Soekarno-Hatta Dikeluhkan Penumpang, Pelayanan Diminta Dievaluasi
Satgas PKH Disorot, Humas PT Kristalin Ekalestari Pertanyakan Minimnya Koordinasi di Wilayah Adat Mosairo
Wakil ketua III DPRP ! Sony Bekies Kogoya Desak Penuntasan Dugaan Korupsi RSUD Nabire, Soroti Kinerja BPKP dan Kejaksaan Nabire
Wakil Ketua III DPR Papua Tengah Ajak Semua Pihak Jaga Keamanan Tolikara dan Puncak Jaya
DK Donat Gunung Batu Curi Perhatian Pecinta Kuliner, Pelanggan Asal Papua Puji Kelembutan dan Variasi Topping
Cuanki Anugerah Gunung Batu Jadi Favorit Pecinta Kuliner, Pelanggan Sebut Rasanya Lezat dan Bikin Ketagihan
Sariater Hadirkan Pengalaman Wisata Tak Terlupakan, Mila dan Micci: Tempatnya Nyaman dan Sangat Menyenangkan
Berita ini 26 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 9 Agustus 2026 - 06:00

Dua Tahun Kasus RSUD Nabire Tak Kunjung Terungkap, Publik Pertanyakan Kinerja Kejaksaan Nabire

Selasa, 4 Agustus 2026 - 16:16

Antrean Check-in Batik Air di Bandara Soekarno-Hatta Dikeluhkan Penumpang, Pelayanan Diminta Dievaluasi

Selasa, 4 Agustus 2026 - 12:46

Satgas PKH Disorot, Humas PT Kristalin Ekalestari Pertanyakan Minimnya Koordinasi di Wilayah Adat Mosairo

Selasa, 4 Agustus 2026 - 06:29

Wakil ketua III DPRP ! Sony Bekies Kogoya Desak Penuntasan Dugaan Korupsi RSUD Nabire, Soroti Kinerja BPKP dan Kejaksaan Nabire

Senin, 3 Agustus 2026 - 17:18

Wakil Ketua III DPR Papua Tengah Ajak Semua Pihak Jaga Keamanan Tolikara dan Puncak Jaya

Senin, 3 Agustus 2026 - 10:34

Cuanki Anugerah Gunung Batu Jadi Favorit Pecinta Kuliner, Pelanggan Sebut Rasanya Lezat dan Bikin Ketagihan

Jumat, 31 Juli 2026 - 07:39

Sariater Hadirkan Pengalaman Wisata Tak Terlupakan, Mila dan Micci: Tempatnya Nyaman dan Sangat Menyenangkan

Rabu, 29 Juli 2026 - 00:27

Papua Tengah Kenalkan Inovasi KOHARUSEHAT di Forum Nasional, Jadi Model Transformasi Layanan Kesehatan Wilayah 3T

Berita Terbaru