DPRPT Memanggil, Satgas PKH dan BIM Tak Datang: Ada Apa dengan Suara Rakyat Papua Tengah?

- Penulis

Kamis, 3 September 2026 - 10:19

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Nabire papua tengah papedanews.com Ketidakhadiran Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH) dan Badan Industri Mineral (BIM) dalam Rapat Koordinasi DPR Papua Tengah (DPRPT), Kamis (3/9/2026), memunculkan tanda tanya besar di tengah persoalan lahan yang sedang dihadapi masyarakat adat Simapitowa dan Nifasi.

‎Rakor yang digelar di Ruang Rapat Alat Kelengkapan Dewan (AKD) tersebut sedianya menjadi ruang untuk mempertemukan masyarakat adat dengan pihak-pihak yang berkaitan langsung dengan persoalan pemasangan plang dan penertiban kawasan. Namun, forum justru harus ditunda karena Satgas PKH dan BIM tidak hadir memenuhi undangan.

‎Padahal, masyarakat datang membawa aspirasi dan berharap memperoleh penjelasan secara langsung. Kepala Suku Simapitowa, Kepala Suku Wate, serta Ketua MRP Papua Tengah hadir dalam forum tersebut.

ADVERTISEMENT

ads.

SCROLL TO RESUME CONTENT

‎Wakil Ketua IV DPR Papua Tengah, Jhon NR Gobai, menilai persoalan ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Menurutnya, masyarakat membutuhkan kepastian, bukan sekadar kebijakan yang datang dari luar daerah tanpa ruang dialog yang memadai.

‎“Kami telah menerima aspirasi resmi dari masyarakat Simapitowa dan Nifasi. DPRPT berpandangan masyarakat perlu dipertemukan langsung dengan Satgas PKH dan BIM agar ada solusi konkret,” ujar Jhon.

‎Persoalannya bukan semata-mata soal pemasangan plang di Km 95, Km 22 hingga Nifasi. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: ketika kebijakan negara menyentuh tanah yang selama ini menjadi ruang hidup masyarakat adat, siapa yang menjelaskan kepada rakyat dan siapa yang bertanggung jawab memastikan tidak terjadi benturan di lapangan?

‎

‎Jika penertiban dilakukan berdasarkan aturan dan kewenangan negara, maka masyarakat berhak mengetahui dasar hukum, batas kawasan, status lahan, serta konsekuensi kebijakan tersebut terhadap kehidupan mereka.

Baca Juga:  Gubernur Meki Nawipa ke KNPI: Jangan Jadi Penonton, Pemuda Harus Turun Tangan Bangun Papua Tengah

‎Sebaliknya, jika terdapat persoalan administrasi, tumpang tindih kewenangan, atau perbedaan pemahaman antara pemerintah pusat dan daerah, maka persoalan itu juga harus dibuka secara terang.

‎

‎Jangan Sampai Negara Hadir Hanya untuk Menertibkan

‎

‎Jhon mendesak Pemerintah Provinsi Papua Tengah tidak tinggal diam. Pemprov dinilai perlu mengambil posisi sebagai mediator untuk mempertemukan Satgas PKH, BIM, masyarakat adat, kepala suku, DPRPT, dan pihak terkait lainnya.

‎

‎Menurutnya, keberadaan regulasi daerah mengenai tambang rakyat harus menjadi bagian dari pembahasan agar kebijakan penertiban tidak berjalan sendiri-sendiri.

‎

‎

‎“Provinsi Papua Tengah ini sudah punya Perda tentang Tambang Rakyat. Kita perlu kolaborasi. Kami berharap Pemprov Papua Tengah segera memfasilitasi pertemuan ulang dengan mengundang Satgas PKH, BIM, masyarakat, serta para kepala suku untuk duduk bersama mencari jalan keluar,” tegas Jhon.

‎

‎

‎Situasi ini sekaligus menjadi ujian bagi pemerintah dan lembaga yang terlibat dalam penertiban kawasan hutan. Ketegasan menjalankan aturan memang diperlukan, tetapi ketegasan tanpa komunikasi berpotensi melahirkan ketegangan baru.

‎

‎Masyarakat tidak semestinya hanya menerima keputusan yang sudah jadi. Mereka juga berhak didengar, terutama ketika kebijakan tersebut bersinggungan dengan tanah ulayat dan sumber penghidupan.

‎

‎Karena itu, ketidakhadiran Satgas PKH dan BIM dalam forum DPRPT patut dijawab secara terbuka. Bukan untuk mencari siapa yang salah, tetapi untuk memastikan mengapa ruang dialog yang seharusnya mempertemukan semua pihak justru tidak terjadi.

‎Sebab pada akhirnya, negara bukan hanya hadir untuk menertibkan. Negara juga harus hadir untuk mendengar, menjelaskan, dan mencari jalan keluar bersama rakyat.

‎

‎

Berita Terkait

POLRES MIMIKA MUSNAHKAN SABU DAN GANJA SENILAI Rp520 JUTA, 28 TERSANGKA BERHASIL DICIDUK DALAM TIGA BULAN
Kapolres Nabire: Terduga Pelaku Tabrak Lari Berhasil Diamankan, Situasi Terkendali
ADA APA DENGAN PENEGAKAN HUKUM DI PAPUA TENGAH? TOGEL 303 DIDUGA MENJAMUR KEMBALI DI NABIRE, POLDA DIMINTA BERTINDAK TEGAS
KADIN Papua Tengah Dukung Festival Kopi, Dorong UMKM dan Kebangkitan Ekonomi Lokal
Sambangi Kampung Harapan, Polda Papua Tengah Salurkan Bantuan dan Bangun Kemitraan dengan Pemuda
DINKES PROVINSI PAPUA TENGAH GELAR WORKSHOP PENINGKATAN MUTU PELAYANAN RUMAH SAKIT DAN OPTIMALISASI PELAPORAN ONLINE TAHUN 2026
Kapolsek Nabire Barat Klarifikasi, Kendaraan Bermuatan Kayu Bukan Ditahan Polsek
Berita ini 61 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 30 Oktober 2026 - 09:19

POLRES MIMIKA MUSNAHKAN SABU DAN GANJA SENILAI Rp520 JUTA, 28 TERSANGKA BERHASIL DICIDUK DALAM TIGA BULAN

Rabu, 28 Oktober 2026 - 12:23

Kapolres Nabire: Terduga Pelaku Tabrak Lari Berhasil Diamankan, Situasi Terkendali

Rabu, 28 Oktober 2026 - 09:30

ADA APA DENGAN PENEGAKAN HUKUM DI PAPUA TENGAH? TOGEL 303 DIDUGA MENJAMUR KEMBALI DI NABIRE, POLDA DIMINTA BERTINDAK TEGAS

Rabu, 28 Oktober 2026 - 09:24

KADIN Papua Tengah Dukung Festival Kopi, Dorong UMKM dan Kebangkitan Ekonomi Lokal

Jumat, 23 Oktober 2026 - 04:50

DINKES PROVINSI PAPUA TENGAH GELAR WORKSHOP PENINGKATAN MUTU PELAYANAN RUMAH SAKIT DAN OPTIMALISASI PELAPORAN ONLINE TAHUN 2026

Kamis, 22 Oktober 2026 - 13:32

Senin, 19 Oktober 2026 - 07:32

Kapolsek Nabire Barat Klarifikasi, Kendaraan Bermuatan Kayu Bukan Ditahan Polsek

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 09:56

Dugaan Pengiriman Kayu Merbau di Pelabuhan Samabusa Disorot, Siapa yang Harus Bertanggung Jawab?

Berita Terbaru