Satgas PKH Disorot, Humas PT Kristalin Ekalestari Pertanyakan Minimnya Koordinasi di Wilayah Adat Mosairo

- Penulis

Selasa, 4 Agustus 2026 - 12:46

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Nabire Papua Tengah papedanews.com Pelaksanaan penertiban kawasan hutan oleh Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH) di wilayah Mosairo, Distrik Makimi, Kabupaten Nabire, Papua Tengah, menuai sorotan. Humas PT Kristalin Ekalestari, Maria Erari, mempertanyakan mekanisme pelaksanaan kegiatan Satgas yang menurutnya dilakukan tanpa komunikasi maupun koordinasi terlebih dahulu dengan pemilik hak ulayat dan pihak perusahaan.

 

Maria menyatakan bahwa kehadiran Satgas PKH di wilayah tersebut menimbulkan tanda tanya di tengah masyarakat adat karena, menurut pengakuannya, tidak ada pemberitahuan resmi mengenai tujuan maupun agenda kegiatan sebelum tim turun ke lapangan.

ADVERTISEMENT

ads.

SCROLL TO RESUME CONTENT

 

Tanah ini bertuan. Ini bukan tanah kosong. Ini tanah adat yang memiliki pemilik hak ulayat dan masyarakat yang hidup di atasnya,” ujar Maria.

Menurut Maria, pendekatan yang mengabaikan komunikasi berpotensi menimbulkan kesalahpahaman dan memperkeruh hubungan antara pemerintah dengan masyarakat adat. Ia menilai setiap kegiatan pemerintah di wilayah adat semestinya mengedepankan koordinasi, dialog, serta penghormatan terhadap pemilik hak ulayat sebagai bagian dari upaya membangun kepercayaan publik.

Sebagai Humas PT Kristalin Ekalestari, Maria mengaku kesulitan menjelaskan kepada masyarakat mengenai maksud kedatangan Satgas PKH karena dirinya juga belum memperoleh informasi resmi terkait agenda kegiatan tersebut.

 

Ia juga menyoroti pentingnya pelibatan aparat kewilayahan, termasuk Koramil dan unsur pemerintah setempat, agar informasi mengenai kegiatan penertiban dapat tersampaikan secara terbuka kepada masyarakat sehingga tidak memunculkan spekulasi di lapangan.

 

Selain menyoroti aspek komunikasi, Maria mempertanyakan fokus penertiban yang menurutnya lebih banyak diarahkan kepada PT Kristalin Ekalestari. Ia berpendapat bahwa apabila pemerintah berkomitmen menegakkan hukum, maka seluruh aktivitas yang diduga melanggar ketentuan, termasuk dugaan pertambangan ilegal di sejumlah lokasi seperti Kali Korowa, Mirago, Legari, dan Wanggar, juga perlu diproses sesuai aturan yang berlaku.

Baca Juga:  Tahap pemeriksaan saksi !! Masyarakat Diminta Bersabar, Penyidikan RSUD Butuh Pembuktian Matang

 

Penegakan hukum harus berlaku sama bagi semua. Jangan sampai muncul persepsi adanya perlakuan berbeda terhadap pelaku usaha atau aktivitas tertentu,” katanya.

 

Maria menegaskan bahwa yang menjadi perhatian masyarakat bukan semata keberadaan perusahaan, melainkan keberlangsungan sumber penghidupan masyarakat adat yang selama ini bergantung pada wilayah tersebut. Menurutnya, kebijakan pemerintah perlu mempertimbangkan aspek sosial, ekonomi, dan hak-hak masyarakat adat di samping penegakan hukum.

 

Polemik ini memperlihatkan tantangan pemerintah dalam menjalankan mandat penertiban kawasan hutan sekaligus menjaga kepercayaan masyarakat. Di satu sisi, Satgas PKH memiliki tugas menegakkan ketentuan hukum sesuai kewenangannya. Di sisi lain, masyarakat adat berharap setiap kebijakan dilaksanakan melalui pendekatan yang menghormati hak ulayat, mengedepankan komunikasi, dan melibatkan para pemangku kepentingan di daerah.

 

Sesuai prinsip keberimbangan, pernyataan yang disampaikan Maria Erari merupakan pandangan narasumber dan belum mewakili sikap resmi Satgas PKH maupun instansi pemerintah terkait.

 

Hingga berita ini diterbitkan, awak media masih berupaya menghubungi Satgas PKH, Balai Penegakan Hukum Kehutanan, serta pihak-pihak terkait lainnya untuk memperoleh tanggapan dan klarifikasi atas berbagai pernyataan tersebut. Apabila tanggapan telah diterima, berita ini akan diperbarui sebagai bagian dari pemenuhan asas keberimbangan

Berita Terkait

Antrean Check-in Batik Air di Bandara Soekarno-Hatta Dikeluhkan Penumpang, Pelayanan Diminta Dievaluasi
Wakil ketua III DPRP ! Sony Bekies Kogoya Desak Penuntasan Dugaan Korupsi RSUD Nabire, Soroti Kinerja BPKP dan Kejaksaan Nabire
Wakil Ketua III DPR Papua Tengah Ajak Semua Pihak Jaga Keamanan Tolikara dan Puncak Jaya
DK Donat Gunung Batu Curi Perhatian Pecinta Kuliner, Pelanggan Asal Papua Puji Kelembutan dan Variasi Topping
Cuanki Anugerah Gunung Batu Jadi Favorit Pecinta Kuliner, Pelanggan Sebut Rasanya Lezat dan Bikin Ketagihan
Sariater Hadirkan Pengalaman Wisata Tak Terlupakan, Mila dan Micci: Tempatnya Nyaman dan Sangat Menyenangkan
Papua Tengah Kenalkan Inovasi KOHARUSEHAT di Forum Nasional, Jadi Model Transformasi Layanan Kesehatan Wilayah 3T
Dinkes Papua Tengah Tingkatkan Kapasitas Tenaga Kesehatan, Perkuat Layanan HIV Demi Capai Target Eliminasi AIDS 2030
Berita ini 51 kali dibaca

Komentar ditutup.

Berita Terkait

Selasa, 4 Agustus 2026 - 16:16

Antrean Check-in Batik Air di Bandara Soekarno-Hatta Dikeluhkan Penumpang, Pelayanan Diminta Dievaluasi

Selasa, 4 Agustus 2026 - 12:46

Satgas PKH Disorot, Humas PT Kristalin Ekalestari Pertanyakan Minimnya Koordinasi di Wilayah Adat Mosairo

Selasa, 4 Agustus 2026 - 06:29

Wakil ketua III DPRP ! Sony Bekies Kogoya Desak Penuntasan Dugaan Korupsi RSUD Nabire, Soroti Kinerja BPKP dan Kejaksaan Nabire

Senin, 3 Agustus 2026 - 17:18

Wakil Ketua III DPR Papua Tengah Ajak Semua Pihak Jaga Keamanan Tolikara dan Puncak Jaya

Senin, 3 Agustus 2026 - 11:28

DK Donat Gunung Batu Curi Perhatian Pecinta Kuliner, Pelanggan Asal Papua Puji Kelembutan dan Variasi Topping

Jumat, 31 Juli 2026 - 07:39

Sariater Hadirkan Pengalaman Wisata Tak Terlupakan, Mila dan Micci: Tempatnya Nyaman dan Sangat Menyenangkan

Rabu, 29 Juli 2026 - 00:27

Papua Tengah Kenalkan Inovasi KOHARUSEHAT di Forum Nasional, Jadi Model Transformasi Layanan Kesehatan Wilayah 3T

Selasa, 28 Juli 2026 - 10:21

Dinkes Papua Tengah Tingkatkan Kapasitas Tenaga Kesehatan, Perkuat Layanan HIV Demi Capai Target Eliminasi AIDS 2030

Berita Terbaru