Nabire, Papua Tengah Papedanews.com Tragedi kecelakaan yang merenggut nyawa Suhenda Nasution, seorang warga Batak di Nabire, bukan sekadar kabar duka. Peristiwa ini menjadi cermin yang memantulkan satu pertanyaan besar bagi kita semua: sudahkah kita benar-benar peduli terhadap sesama, terutama terhadap saudara se-perantauan?Kepergian almarhum menyisakan cerita yang tidak sederhana.
Di tengah suasana duka, keluarga dan kerabat menyadari bahwa menjadi perantau bukan hanya soal bekerja dan mencari penghidupan.
ADVERTISEMENT
.
SCROLL TO RESUME CONTENT
Lebih dari itu, perantau harus membangun kebersamaan, saling mengenal, saling melapor, dan aktif dalam paguyuban atau kerukunan. Banyak orang tinggal bertahun-tahun di suatu daerah, tetapi enggan terdata atau terlibat dalam kegiatan organisasi. Ketika musibah datang, barulah terasa betapa pentingnya keberadaan wadah yang solid dan terorganisir.
Pertemuan antara Ketua Perkumpulan Keluarga Batak Nabire (PKBN), Jannes Siadari, dengan Kepala Suku MAJAPAHIT (Madura Jawa Pasundan Papua Tengah Inovatif Toleran), Agus Suprayitno, S.Sos., M.H., membuktikan bahwa solidaritas lintas suku masih hidup. Penyerahan proses pemulasaran jenazah almarhum berlangsung penuh tanggung jawab dan rasa kemanusiaan.
Dalam keterangannya, Agus Suprayitno menegaskan bahwa MAJAPAHIT hadir untuk semua. Ia menyampaikan bahwa pihaknya tidak melihat suku maupun agama. Jika ada warga meninggal dan tidak ada yang mengurus, mereka siap membantu proses pemakaman sebagai bentuk tanggung jawab kemanusiaan. Pernyataan itu bukan sekadar ucapan, karena tim langsung turun tangan mendampingi proses hingga selesai.
Prosesi pemulasaran dipimpin oleh KH. Mukromin Al Hafidz, mulai dari memandikan jenazah hingga penguburan. Selain itu, pihak kepolisian dari Sat-Lantas turut hadir mengawal situasi.
Ketua PKBN Jannes Siadari, Sekretaris MAJAPAHIT M. Thohir, S.Pd., M.M., serta Bendahara II MAJAPAHIT Pariman, S.T., juga mendampingi proses tersebut. Kebersamaan ini menunjukkan bahwa ketika organisasi berjalan dan saling berkoordinasi, persoalan besar dapat ditangani dengan tertib dan bermartabat.
Jenazah direncanakan dimakamkan di pemakaman Muslim Kampung Wadio. Namun, keterbatasan lahan makam kembali menjadi sorotan. Area pemakaman di wilayah kota semakin sempit dan tidak lagi memadai untuk jangka panjang. Kondisi ini menjadi pengingat bagi seluruh paguyuban dan kerukunan perantau agar mulai memikirkan lahan pemakaman sendiri bagi anggota yang tidak berdomisili tetap. Jangan sampai setiap musibah selalu dihadapi dengan kebingungan dan negosiasi mendadak.
Di sisi lain, peristiwa ini juga mendorong pengelola makam Muslim untuk meningkatkan kepekaan sosial. Urusan kemanusiaan seharusnya tidak terasa rumit karena prosedur yang kaku atau komunikasi yang kurang responsif. Kematian adalah kepastian bagi setiap insan. Karena itu, pelayanan terakhir bagi jenazah seharusnya menjadi ladang amal dan kepedulian, bukan sekadar urusan administrasi.
Peristiwa ini menyadarkan para perantau bahwa bergabung dalam paguyuban bukan formalitas. Langkah itu menyangkut pendataan, koordinasi, serta kesiapsiagaan saat musibah datang. Jangan hanya hadir saat ada acara besar atau ketika membutuhkan bantuan pribadi, tetapi absen ketika organisasi memerlukan partisipasi.
Lebih jauh, kerja sama antar paguyuban mutlak diperlukan. Tragedi ini membuktikan bahwa solidaritas lintas suku mampu menguatkan. Ketika Batak dan MAJAPAHIT duduk bersama, yang mereka utamakan bukan identitas, melainkan kemanusiaan.
Jangan tunggu musibah datang baru kita memahami arti kebersamaan. Perantau yang kuat ialah perantau yang terorganisir, peduli, dan memiliki sistem yang jelas—termasuk dalam urusan pemakaman. Pada akhirnya, kita semua akan kembali kepada-Nya. Yang tersisa hanyalah bagaimana sesama memperlakukan kita di akhir perjalanan.

























